Nostalgia Flobamora I oleh Gerson Poyk

Nostalgia Flobamora cerpen by Gerson Poyk

Buku kenang-kenangan masa kecilku ini kutulis untuk memperingati seekor anjing kesayanganku yang sangat setia mendampingiku kemana aku pergi. Diwaktu aku mandi di mataair Mbaumuku di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai di Flores Barat, anjing kesayanganku ikut mandi, ketika aku mencabut rumput menyiangi ladang jagungku,ia menungguku. Ketika aku membaca kejayaan dan kejatuhan Napoleon serta kekejaman Kaisar Nero, anjing kesayanganku tidur di kakiku. Ketika otak di kepalaku berurusan dengan kebuasan manusia dalam sejarah kakiku mengusap-usap sebuah kelembutan yang justru datang dari binatang.

Aku masih mengenang sampai hari ini, betapa hancurnya hatiku ketika suatu pagi ketika aku keluar dari halaman dan berjalan beberapa meter menuju sekolah aku melihat anjingku berdiri kemudian berjalan pelan-pelan mendekatiku dan ketika ia mendekat, aku melihat tulang punggungnya telah putus dibelah orang dengan parang. Ia berjalan pelan sekali tidak perduli padaku.

Terbayang olehku, biasanya ia berlari menemuiku lalu melompat dan memelukku dengan suaranya yang riang dan menjilat-jilat tanganku. Bayangan itu membuat aku menangis mengusap-usapnya kemudian menyuruhnya pulang. Begitu ia melangkah pelan-pelan me nuju rumah aku jadi optimis bahwa ia akan sembuh.

Tulang punggungnya yang putus akan tersambung kembali bilamana ia beristirahat dan diberi makan yang bergisi tinggi. Dengan paru-paru yang tampak ia berjalan memasuki halaman rumah lalu berjalan menuju kolong bale-bale bamboo tempat aku selalu duduk atau berbaring sambil membaca riwayat hidup Napoleon dan sebuah buku terbitan Balai Pustaka yang berjudul “Iman dan Pengasihan “ yang mengisahkan kekejaman Kaisar Nero terhadap umat Nasrani di Roma.

Duduk di kelas menghadapi pekerjaan berhitung, aku membayangkan jarum, benang dan kawat untuk menyambung kembali tulang punggung anjingku yang putus itu.

Selain anjing kesayanganku, kenang-kenangan masa kecilku ini terutama kutulis untuk memperingati ayah dan ibuku yang dengan susah payah, penuh kasih sayang membesarkan anak-anaknya, termasuk aku. Yang paling membikin aku bangga pada ayahku ialah bahwa ia menerima anak-anak tirinya, membesarkan mereka, menyekolahkan mereka hingga mereka bisa hidup mandiri.

Yang perempuan kawin dengan orang baik-baik dan yang laki-laki menjadi polisi. Hanya abang tertua yang menjadi tentara yang tidak pernah tinggal dengan kami karena dari rumahnya ia langsung masuk KNIL, dilatih di Purworejo. Ia seangkatan dengan Pak Harto.

Menjelang masuknya Pak Jepang, Pak Harto berpangkat kopral sedangkan abangku sudah sersan. Ketika Jepang mendarat, putuslah hubungan kami dengannya. Di saat sang Merah-Putih berkibar diIndonesia timur, abangku muncul dari hutan gerilya sebagai tentera republik di Sumut.

Ayahku dengan caranya mengantar aku ke pintu gerbang negeri imajinasi sedangkan ibuku dengan caranya pula menuntun imajinasiku ke program-program etis baik dalam tulisan-tulisanku, baik dalam perbuatan praktis dalam masyarakat.

Dengan lain kata ayahku mendorong aku untuk berani mengambil resiko pengembaraan dalam hidup ini, berani untuk hi dup bukan berani mati sedangkan ibuku yang selalu hidup dalam jiwaku, selalu menuntun imajinasiku ke te ngah kebun untuk menanam padi, jagung, ubi, labu dan sebagainya.

Dikemudian hari ketika aku berenang dalam dunia sastra dan filsafat aku mengenang motivasi yang diberikan ayahku.

Ketika aku menulis conceptual tool untuk operasi kemanusiaan, yang berupa kebutuhan maksimum seorang individu yang diambil dari tanah pertanian dan alam, maka ibukulah yang memberi jalan padaku.

Ketika aku menjadi dewasa dan mengembara ke seluruhIndonesia , ketika aku terbang di atas samudera dan benua dan ngelayap di kota-kota dunia, o Tuhan , dimana-mana kudengar derita dan ratap tangis keterasingan urban.

Ketika aku melakukan ekspedisi tunggal mendaki puncak-puncak pegunungan filsafat, ketika itu ibu yang hidup dalam jiwaku menuntun imajinasiku yang terbang dari landasan kategori pengertian rasional yang bersentuhan dengan laboratorium dunia yang menghasilkan pramida besar dan cerobong-cerobong asap industri, menuju ke dunianya sayap-sayap kategori kemerdekaan yang disebut moral, keabadian dan Tuhan.

Di bawah siraman hujan ibu menanam jagung dan sayuran untuk kesehatanku. Itulah kenangan yang paling meresap untuk kemudian, ketika aku menjadi sastrawan, aku sangat yakin bahwa untuk menjadi orang bermoral, perlulah orang kembali ke tanah yang membentang luas di tanah air untuk diolah untuk jadi sawah lading dan padang pengembalaan.

Ayah dan ibuku membawa aku ke suatu perjalanan panjang dari possibility ke probability dan implementasi. Keduanya mempunyai pengabdian tanpa pamrih buat anak-anaknya.

Seperti diketahui, orang-orang di pulau kelahiranku Rote bukanlah petani yang menanami tanaman perdagangan dan industri. Mereka menanam padi, jagung dan sebagainya untuk dimakan sendiri.

Kebanyakan orang Rote menyimpan tiga tahun panen padi di lumbung karena untuk hidup sehari-hari mereka minum gula lontar dan lauk ikan dan sayuran seperti daun kelor, daun papaya dan daun bawang. Itulah yang membuat orang Rote sangat subsisten.

Berabad-abad pulau Rote yang kecil memberikan segalanya untuk penduduknya, sehingga mereka tidak perlu tergantung pada ekonomi uang.Memang ada apa yang disebut ekonomi lontar (gula, balok, anyaman), tapi ekonomi lontar tak membuat orang Rote memegang banyak uang. Mereka tak risau karena makanan dan pakaian yang ditenun sendiri selalu tersedia. Begitu pula dengan tenaga menggarap sawah.Ada begitu banyak kerbau yang dapat merencah (menginjak-nginjak sawah sampai menjadi lumpur).

Jika kemudian ekonomi uang memasuki pulau itu maka subsistensi yang etis itu akan hidup bersama dengan manipulasi, dengan kelicikan, dengan penipuan dan pencurian. Ekonomi lontar atau ekonomi gula begitu berkenalan dengan arak (sopi) yang diperkenalkan oleh Belanda (dibawa dariBatavia ) maka maraklah penyulingan arak (sopi) di bawah naungan pohon lontar. Orang Rote menjadi pemabuk, pemarah dan pemalas – terutama anak-anak mudanya. Mereka menjadi penganggur urban di Kupang dan kota-kota lain di Indonesia, terasing dari tanah di pulaunya yang membuat nenek-moyangnya berabad-abad sangat subsisten, jauh dari pengangguran urban.

Di masa VOC orang Rote mulai sadar bahwa mereka buta huruf dan sangat memerlukan sekolah. Akan tetapi dengan apa mereka membayar gaji guru ? Maka VOC meminta guru dibayar denga kacang ijo, lilin lebah dan budak . Namun orang Rote menolak membayar gaji guru yang didatangkan Belanda dengan budak. Mereka hanya mau membayar dengan kacang ijo dan lilin lebah.

Bayangkan kalau seandainya gaji guru dibayar dengan budak. Tentu banyak sekali budak yang dimilikanya ketika guru itu pensiun. Tinggal ongkang-ongkang saja karena sawah dan lading dikerjakan oleh para budak. Untung hal itu tak terjadi.

Jadi pendidikan di pulau Rote bukan dimulai dengan uang. Dengan demikian maka akhirnya pulau Rote memiliki belasan sekolah angka loro atau sering juga disebut sekolah gubernemen (sekolah negeri) Ayahku memasuki sekolah itu, tetapi sebelum menamatkannyadi Rote,ia sangat ingin merantau.

Kakek menyetujuinya lalu menjual beberapa ekor kambing. Lalu ayah dikirim ke Kupang untuk tinggal dengan guru Lanu yang juga berasal dari Ringgou, kampung ayah. Karena kakek tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayah memperoleh status anak piara. Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya.

Tiba-tiba seorang guru yang juga berasal dari kampung ayah, Guru They, dipindahkan ke Takalar, Sulawesi Selatan. Dia mengajak ayah ikut keSulawesi . Sudah tentu ayah sangat setuju. Menurut cerita ayah, ketika duduk di kelas terakhir sekolah gobernemen (sekolah angka loro) itu, ayah harus keluar tiga puluh menit lebih awal.

Ia harus berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga Guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia.

Begitu ayah tamat ia langsung mendapat pekerjaan sebagai kepala hallte stasion kereta api yang menghubungkanMakassar dan Takalar. Akan tetapi ketika ada lowongan untuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda (KIS) maka ayah meninggalkan pekerjaannya. Begitu tamat ia ditugaskan di atas kapal perangSUMBA . Teman-teman lainnya yang seangkatan, termasuk Paraja bertugas di kapal Tujuh lalu mengadakan pemberontakan yang terkenal itu.

Ayahku dipecat karena suka berkelahi. Ketika hidungnya ditinju oleh seseorang, ia mencabut pisau lalu menancapkan ke betisnya.” Untung tak putus urat di atas tumitnya ,” demikian beberapa kali kudengar cerita ayah.

Seorang teman sekampungnya yang bekerja sebagai klerk di boom (pelabuhan), tiba-tiba terkejut melihat ayahku berada di atas timbunan karung, sedang berkelahi dengan seorang buruh angkut. Teman itu segera naik ke bukit karung itu untuk menolong ayah dan begitulah, sang buruh segera angkat kaki. Teman sekampung ayah itu terheran-heran mengapa seorang anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah duel di atas timbunan karung.

Lalu menurut cerita ayah, ia bekerja di pabrik binatu besar milik orang Belanda, tetapi karena Belanda selalu memarahinya maka hanguslah pakaian putih milik orang Belanda. Tentu saja pemilik perusahaan binatu itu memecat ayah.

Cerita mengenai kembalinya ayah ke pulau Rote tidak banyak yang kuketahui. Ayah hanya bercerita bahwa ia sukar sekali mendapat pekerjaan karena tiba zaman meleset (malaise) yang kira-kira sama dengan masa krisis sekarang ini. Namun tidak lama kemudian ayah mendapat pekerjaan sebagai mantri verpleger (mantri rumah sakit), kemudian kawin dengan seorang wanita asal Rote. Akan tetapi, karena ibu itu tidak mempunyai anak maka menurut ibu itu ketiku bertemu aku, ia mengijinkan suaminya kawin lagi agar mendapat keturunan.

Setelah bercerai dengannya ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote.

Bajawa, sebuahkota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalahkota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote. Rasa bersalah dan ketakutan akan ajal dan penghukuman, entah bagaimana telah tertanam dalam diri seorang kanak-kanak sepertiku. Lucu memang, ibu memberiku uang satu kelip untuk sumbangan Sekolah Minggu. Entah karena rayuan si penjual roti keliling, aku membelanjakan uang itu dan ketika sampai di gereja aku tidak seperti anak lain menyerahkan uang itu kepada guru Sekolah Minggu.

Pada suatu hari,kota yang selalu ditutupi kabut musim hujan itu terbelah. Aku melihat ke langit. Di balik awan ada langit biru. Dengan segera aku mengira bahwa langit terbelah dan ini pertanda dunia mulai kiamat. Aku berlari ke rumah. Berlari kencang ngos-ngosan sambil membayangkan bagaimana kalau aku mati nanti dengan dosa yang kubawa, dosa membelanjakan uang untuk Sekolah Minggu? Berlari ketakutan penuh khayalan pada penghukuman dihari kiamat, sampailah aku ke rumah. Aku berkeliling meja makan membawa ketakutan akan terbelahnya langit dan hukuman hari kiamat tetapi ketakutanku hilang karena ibuku tenang-tenang saja, begitu pula adik perempuanku. Rumah (dalam arti home) melenyapkan ketakutanku.

Samar-samar terbayang olehku, ada beberapa anak kecil yang mengikuti Sekolah Minggu itu. Rasanya tidak sampai sepuluh orang. Gereja Protestan di Bajawa tampak dalam kenanganku, sebuah bangunan kumuh. Barangkali lantainya tanah dengan bangku-bangkunya tanpa sandaran. Aku masih ingat pada sosok seorang anak muda yang menjadi guru Sekolah Minggu. Rasanya di gereja kecil itulah terjadi pertemuan antara ide tentang Tuhan yang sudah tertanam dari sononya dalam jiwa seorang anak kecil sepertiku dan informasi yang diperoleh dari guru itu tentang Tuhan yang turun ke bumi untuk menjemput manusia yang tak berdaya menghadapi ajal dan gelimang dosa.

Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa took milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu.

Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumahsakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia dating mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku.

Aku ingat betul, pada suatu malam, perutku kram luar biasa. Aku merintih kesakitan. Ayahku menghilang dan kemudian kembali dengan seorang lelaki bule tampak di depan mataku dan ia menaruh stetkop di tubuhku sambil meraba-raba perutku.

Tidak lama kemudian sakitku hilang dan aku tidur lelap dan bangun segar di pagi hari meninggalkan kenangan wajah lelaki bule dan rabaan tangan di perutku, serta suaranya yang samar entah tentang apa bicaranya, aku tak ingat lagi.

Orang selalu memanggil aku Be’a. Ini adalah nama panggilan kesayangan bagi orang Rote. Setiap anak yang sangat disayangi dipanggil Be’a baik ia lelaki atau pun perempuan. Begitu pula kakek yang sangat disayangi, dipanggil Papa Be’a. Nenek kami dipanggil Mama Be’a. Kadang-kadang aku dengar orang mengatakan bahwa kami, aku dan adik perempuanku Matilda alias Nona, anak Tuan Hof. Ini karena ayahku . Itu karena ayahku berpangkat Hoofd Mantri atau Mantri Kepala di rumah sakit itu.

Rumahsakit Bajawa terletak di salah satu pojok halaman tangsi polisi. Biasanya di sore hari ayahku mengajak aku ke rumah sakit. Aku memegang tangan ayahku berjalan setengah mengelilingi tangsi dan dalam perjalanan aku selalu bertanya dan bertanya ”apa itu”. Masa ”apa itu” itu kunikmati benar. Ayah tampak membunyi-bunyikan giginya sedangkan aku memberondongi ayah dengan Tanya ” Apa itu, Pa?” Aku terpesona memandang lapangan rumput yang hijau , pohon-pohon yang rindang, rumah-rumah dan mulut ku berbunyi, ”Apa itu, Pa?” Perasaanku mengalun indah dan tersangka aku menggigit-gigit kukuku.

”Jangan makan kuku,” kata ayahku.

”Kenapa kalau makan kuku,p pa?” tanyaku.

Jawaban yang aneh, yang masih kuingat sampai hari ini, ”makan kuku sendiri berarti makan orang tua?” kata ayahku.

Aku menguakkan muka ke atas, memandang ayahku. Beliau tenang-tenang saja dan aku menikmati elusan udara irasional dalam jiwaku. Ayah tidak mengatakan bahwa di kuku ada telur cacing dan kalau makan kuku, cacing akan masuk ke mulut dan ke perut, kemudian membuat aku sakit. Pada waktu aku sakit, orang tua jadi susah, sedih.

Kasihan ayah dan ibuku kalau aku sakit. Entah, apakah analisa yang demikian itu terjadi di saat itu atau di kemudian hari ketika aku telah bersekolah, aku tak tahu, tetapi aku lebih yakin bahwa setelah mendapat pendidikan tentang ilmu kesehatan barulah jelas bahwa seorang anak yang menggigit-gigit kuku adalah seorang yang makan (menyusahkan) orang tua bila anak itu sakit perut. Kata-kata ”makan orang tua” masih terngiang dalam kasanah kenanganku.

Di tahun baru dan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, orang dikota kecil itu berpesta membakar mercon. Kenikmatan bakar mercon terasa juga tetapi kenikmatan ini sirna karena berita ada anak yang matanya buta. Oleh karena itu aku sangat takut pada bunyi dan semprotan mercon. Naluri menyelamatkan diri lebih besar daripada naluri menantang bahaya api dan ledakan. Begitulah, pada suatu hari entah hari raya apa, ada anak tangsi membakar mercon besar di lapangan segitiga di luar tangsi di samping menara air. Melihat mercon itu ditutupi sebuah kaleng susu, naluriku menyuruh aku berlari menjauhi ledakan yang tentu akan besar sekali.

Dari kejauhan yang aman, aku melihat dengan aman pula kaleng susu itu mental cukup tinggi ke udara. Setelah dewasa kalau dikenang kembali, aku geli sendiri mengenang ketakutan yang demikian, ketakutan lihat langit terbelah dan ketakutan pada ledakan mercon besar. Naluri melarikan diri dari bahaya di masa kecil, tampaknya tidak hilang ketika aku sudah bekerja sebagai pegawai negeri (guru) dan setelah berumahtangga. Di masa kecil, tidak ada akibat apa tetapi di masa dewasa naluri melarikan diri membuat aku menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. Penuh dengan tragedi dan komik. Misalnya ketika aku lari dari Ternate di saat timbulnya pemberontakan Permesta .Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar diBali . Dengan ”mengemis”sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk keJakarta . Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku deºngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik.

Melihat yang demikian, aku jadi takut karena rumahnya dekat. Aku lalu meninggalkan dia menangis pulang kerumah. Untung tidak ada yang melaporkan kepada ayah dan ibuku. Hukuman terhadap kenakalanku selalu tersedia. Hal ini aku alami ketika pada suatu hari, ada seorang gadis manis berjalan memakai kebaya, kain batik dan berkerudung. Mungkin ia anak pegawai negeri (guberneman) sehingga ia kenal betul ibuku.

Aku agak lupa, kata-kata yang kuucapkan kepadanya. Aku hanya ingat bahwa aku selalu melihat pinggulnya yang indah dan lenggangnya yang lembut dan pakaiannya bergaya muslim.Mungkin aku tertarik padanya, mungkin bibit libido mulai bertumbuh atau mungkin karena keusilan seorang anak yang masih ingusan, anak yang belum bersekolah. Ibuku marah besar.dia menyuruh pembantu membawah cabe dan cobek.

Kemudian ia menyuruh pembantu mengambil tahi ayam. Ibu mengulek-ulek semuanya dicobek lalu menangkap aku, memeluk erat-erat dan menggosokan sambal tahi ayam itu kepada mulutku. Setelah aku besar, aku sadar bahwa semuanya itu gombal. Bukan tahi ayam sebenarnya yang dioleskan ke mulutku yang kotor terhadap gadis berkain kebaya dan berkerudung itu.

Musim hujan tiba. Setelah ibu memandikan aku dengan menggosok-gosok telapak kaki dan seluruh tubuh, terutama tumitku yang dakinya tebal, aku mulai berani mandi pagi. Disore hari aku masuk ke bak mandi dan mengocok-ngocok bak itu.

Alangkah senangnya.Dimusim kemarau aku takut mandi pagi dan sore sehingga, bilamana tiba acara mandi aku menangis-nangis ketika dimandikan ibu, apalagi ibu menyebut-nyebut nama Oom Obaya, sopir oto pos (mobil pos) dan tuan inspektur polisi Belanda yang suka berkelilingkota naik sepeda motor gandengan.

Aku paling takut polisi bule itu. Bila ada bunyi sepeda motor gandengan aku lari bersembunyi. Adikku Matilda, pada suatu sore, ketika berjalan bersama ayah, tiba-tiba ia berteriak ketakutan memeluk ayah ketika serombongan suster katolik bule berpakaian putih-putih mendekati kami.Ia tidak takut melihat orang berpakaian putih membungkus seluruh badan.

Ketika bungkusan itu masih jauh, bergerak berombongan, ia tenang-tenang saja tetapi begitu mendekat dan ada manusia putih bermata hijau tertarik pada anak manis kekuningan berambut agak merah dan mencoba mencubit pipinya, adikku berteriak, menangis ketakutan memeluk kaki ayah. Aku hanya geli sendiri dan menatap terus mata biru dalam jilbab katolik itu.

Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal daro Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya.

Dia menjaga kantor-kantor, rumah kontrolir dan bangunan penting lainnya. Kalau ada pohon mangga yang rimbun dan berbuah lebat di depan bangunan itu, opaslah musuh anak-anak yang lebih besar dariku, anak-anak yang telah bersekolah.Ada yang mengatakan, mencuri buah mangga kurang enak tetapi larinya itu yang enak. Pencuri mangga harus cepat turun dari pohon lalu lari melompat pagar. Itulah yang lebih enak dari mencurinya. Walaupun masih kecil, aku sudah bisa berpikir bahwa anak-anak pencuri mangga itu akan menjadi orang jahat kalau sudah besar.

Kembali ke cerita mengenai musim hujan, aku ingat, pada suatu hari ketika aku bangun tidur siang, aku berteriak-teriak memanggil ibu. Ke kamar tamu dan pintu depan yang menghadap jalan raya, aku memanggil keras-keras, ”Mama…” Tidak ada jawaban. Aku ke dapur dan berteriak, ”Mama…” Kemudian terdengar jawaban ibu dari halaman belakang. Aku melongok ke halaman belakang. Ternyata ibu sedang menanam jagung, labu dan sebagainya, dibawah siraman hujan dan gemuruh atap seng rumah kami. Kepalanya berbungkus handuk.

Kemudian aku melupakan kegiatan ibuku. Setelah empat ataulima bulan, aku gembira sekali ketika melihata halaman belakang. Jagung dan labu telah berbuah dan bisa dipetik. Ibu memetik beberapa buah jagung muda dan merebusnya. Aku dan adikku melahap jagung muda rebus itu dan sayur pucuk dan bunga labu.

Buah labu yang panjar belum bisa dipetik karena masih terlalu muda, tetapi jagung dan sayur daun dan bunga labu itu, mungkin untuk pertama kali aku kenal dan sadar memasuki perutku. Aku ingat, beberapa hari kemudian aku memetiknya dan merebusnya sendiri dengan periuk besi.

Lalu aku tidak lagi keluar rumah. Setiap hari aku sibik merebus jagung.

Ketika aku menjadi sastrawan, pergumulan batin paling menonjol adalah di seputar keterasingan makhluk-makhluk urban dan para penganggur. Aku dekat dengan para miskum (orang miskin dan kumuh) atau para kumis (manusia kumuh dan miskin). Mereka terasing, tercerabut, teralienasi dari tanah. Ibulah yang mengajarkan aku bagaimana memperoleh solusi dari keterasingan atau alienasi manusia dari tanah. Orang-orangkota hanya bergantung pada tenaga mereka, tenaga tubuh mereka.

Tenaga dan tubuh mereka tercerabut dari kepribadian mereka, dicabut, direbut oleh uang.Para buruh, para kuli, para pedagang kecil, para pelacur, harus banting tulang menjual daging mereka untuk uang agar bisa makan. Semua mereka terasing dari mereka. Seandainya mereka punya tanah dan pengetahuan untuk menyuburkan tanah dan memelihara tanaman, maka mereka tidak akan kekurangan makanan. Mereka tidak mengasingkan tenaga produktif mereka, daging mereka (seks dan tenaga mereka) kepada uang. Mereka tidak akan terasing, sakit, menjadi manusia tak berdaya.

Manusia, disamping jiwa, roh adalah apa yang dimakannya. Jika makanannya kurang sehat, maka manusia akan bodoh, menjadi setengah binatang. Orang-orangkota dari jenis Miskum atau Kumis gampang digerakkan oleh elit politik dan orang-orang berduit untuk menjadi binatang yang berkelompok untuk bunuh diri ramai-ramai dengan melakukan kerusuhan.

Indonesiadewasa ini ketika kutulis kenang-kenangan masa kecilku ini, benar-benar telah meninggalkan tanah, meninggalkan hujan, meninggalkan kegiatan pertanian mandiri. Padahal setelah beberapa bulan bibit ditaruh di tanah air kita yang subur ini, makanan akan tiba di dapur dan perut dan kita pun tidak usah membelinya, kita tidak usah tergantung pada uang yang dipinjam dari luar negeri, tidak usah tergantung pada belas kasihan negeri kaya. Malah dengan cukupnya makanan di kebun sendiri, kita dapat bekerja keras dan tenang untuk membayara utang. Program yang produktif di bidang pertanian perlu lekas dibuat, karena tanah bukan saja menghasilkan makanan tetapi juga kerajinan tangan dalam rangka produksi olehmassa di desa-desa dan bukan produksi massal pabrik-pabrik milik segelintir konglomerat. Selama tiga tahun tinggal di Bajawa aku mendengar dari ibu bahwa aku adalah anak nomorlima dan anak perempuanku adalah si bungsu. Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh, nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku) Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie). Suami pertama ibuku adalah seorang raja dari kerajaan Ti. Karena ia terlibat dalam perang suky dengan orang Dengka (sebuah kerajaan tetangga) maka Belanda membuang membuang dia ke pulauSumbawa danFlores . Disana ia kawin lagi. Ibu minta cerai. Kawin lagi dengan raja baru bernama Thobias Messakh, ibu melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Tiba-tiba raja itu meninggal. Perkawinannya dengan ayahku, melahirkan aku dan adikku yang dibawa ke Bajawa. Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah seorang temukung besar kepala beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun tidak dikorup. Juga aku pernah mendengar cerita bahwa di pulau Semau, ibuku pernah sakit keras.Ada infeksi parah di geraham ibuku tetapi untung dokter Belanda di Kupang dapat mengobatinya. Kemudian ayah dipindahkan keSumba , memimpin klinik di sebuah dusun bernama Langgaliru, terletak diantara Waingapu dan Waikabubak.

Kakakku Benyamin Besar, Mariana dan Benyamin kecil tinggal di Rote sedangkan kakak Dina ikut serta. Ikut juga Hosea Poyk (kami memanggilnya Papa Ose) dan Jeremias Poyk (Papa Mias). Di dusun itu menurut cerita ibu aku pernah jatuh dari atas kerangka mobil tua sehingga dadaku lembek dan batuk-batuk terus. Lalu aku dibawa seluruh keluarga melaluipadang savanaSumba menuju ke sebelah barat, kekota kabupaten Waikabubak. Menurut kakak perempuanku Dina, semuanya mengenderai kuda sedang ibuku bercerita bahwa angin mendesing siang dan malam dan batukku tak henti-hentinya. Semua itu tak kusadari. Di tahun 1985, aku sampai dengan bus ke Langgaliru. Berhenti di terminal asal jadi di tepi sungai bening, aku bertanya dalam hati dimanakah klinik yang dikepalai oleh ayahku? yang jelas aku pernah minum dari mata air bening di dusun itu, pernah mandi di sungai bening itu, tetapi semuanya tak kusadari, sampai usiaku memberi kesadaran akan dunia di kota kecil Bajawa, dimana ayahku naik pangkat dari kepala klinik menjadi Hoofdt Mantri yang mengepalai sebuah rumah sakit kabupaten

Pada suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke Sekolah Rendah yang terletak di seberang lapangan di depan rumah sakit. Sampai disana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.

Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, seperti kresek plastik zaman sekarang, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.

Aku melihat-lihat dari bawah, penuh tandatanya. Tidak ada yang menyuruh aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.

Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah. Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda, barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru mendudukkan aku di bangku paling depan.

Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat benar ketika masuk sekolah di Bajawa. Aku tidak ingat bahwa guru mulai mengajar membaca, berhitung atau menyanyi. Aku tak ingat berapa lama aku belajar di situ.

Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah rumah berlantai tanah dikota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di kampung Tiang Radio, dekat sebuah sumur yang dalam, yang airnya ditarik ramai-ramai oleh beberapa perempuan dari Sabu (sebuah pulau kecil di Laut Sabu). Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.

Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.

Kemudian ayah menggali sebidang tanah lereng, meratakannya dan membangun sebuah gubuk. Maka kami lega memiliki rumah sendiri, tanpa menumpang di rumah orang. Semuanya dibuat oleh tangan ayah. Aku ingat, ia juga membuat sebuah kursi malas lalu duduklah dia sambil makan sirih.

Kemudian ayah menghilang lagi. Aku dengar cerita ibu tentang pekerjaan ayah. Pekerjaan baru. Ayah tidak lagi menjadi Hoofd Mantri. Ayah mengikuti Tuan Lauwoie, seorang pembela perkara.Ada kasus yang diserahkan kepada ayah untuk dibela.

Aku masih ingat, uang yang ditinggalkan ayah terbatas sehingga pada suatu malam ibu memanggil adikku dan aku untuk makan malam. Di sebuah dulang tersedia beberapa potong kue bendera dan teh manis. Kami mengunyah kue itu lalu minum teh manis dan tidur lelap karena lelah bermain sehari suntuk.

Sungguh, sebuah kenangan yang halus mengiris jiwaku.

Sebelum meninggalkan Bajawa, aku dan adikku pernah mengikuti ibuku ke rumah paman kami, komandan tangsi polisi di Bajawa. Rumah itu bersebelahan dengan rumah klerk. Kami berdua tidak tahu apa pasal ibu berkelahi dengan iparnya. Ibu hanya mengatakan bahwa perempuan itu tidak tahu diri. Saudara ibu yang memberi makan dia tetapi dia menyusahkan ibu dan kami semua. Dikota pantai Endeh barulah aku mengetahui bahwa ayahku dipecat karena affairnya dengan seorang ‘Monica Lewinsky Jawa’ yang muda dan manis bernama Maria. Tante Maria tidak punya anak karena suaminya (seorang polisi) tidak berfungsi (mandul).

Sang suami tidak ‘berbunyi’, tidak peduli pada perbuatan istrinya tetapi yang paling cerewet adalah istri kepala polisi yang adalah ipar dari ibuku. Ipar perempuan ibuku itu melaporkan pada atasan ayahku sehingga ayahku dipecat. Itulah yang membuat ibuku marah lalu berantem dengan iparnya itu. Ibu menggigit pipinya lalu keluar dari rumahnya. Aku dan adikku menjemput ibu, berjalan di kiri dan kanan ibu yang menggerutu terus bahwa ia dibikin susah oleh wanita kaltedis (mandul) yang diberi makan oleh saudaranya.

Hidup berubah cepat. Dari anak pegawai menjadi anak pembela perkara amatiran. Namun setiap hari kami bisa makan. Hanya satu kali itu, ingatku bahwa kami tidur malam setelah mengunyah cuma kue bendera.

Di Endeh, aku dimasukkan ke sekolah Protestan. Hanya satu kelas terdiri dari beberapa anak. Di sini tidak pernah aku belajar berhitung dan membaca. Seingatku tidak pernah. Aku hanya ingat Pak Pendeta (ayah Laksamana Samuel Muda, pahlawan Laut Aru) semacam tangga di papan tulis dan di setiap anak tangga ditaruh angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Lalu ia memberi contoh suara (nada), do, re, mi, fa, sol, la, si. Selebihnya aku tak ingat ketika bersekolah di kelas satu di gereja Protestan yang kecil di Endeh.

Yang paling aku ingat adalah kegemaranku membeli ubi jalar yang berwarna putih di pasar Endeh dengan uang sen-senan. Lalu membawa pulang dan menggorengnya. Pada hariNatal , ibu mengiris daun pandan dan mencampurnya dengan beberapa jenis kembang, terutama mawar, lalu menyuruh kami mandi dan berpakaian bersih, kemudian membawa kami ke jembatan laut di Endeh, dan menaburkannya ke laut. Ibu berkata, bunga rampai itu dikirim kepada nenek, kepada paman dan sebagainya. Lalu kami bertiga ke jembatan laut menghamburkannya ke laut. Peristiwa itu sangat mengesankan aku. Terasa sangat indah. Terasa bunga itu akan sampai ke suatu tempat rahasia tempat Mama Be’a (Nenek) dan Papa Be’a (kakek) dan sanak saudara bermukim. Ibu telah mengajarkan aku tentang bahasa kerja menanami kebun dan simbol-simbol cinta kasih kepada yang berada di seberangsana , di dalam dan dibalik kehidupan nyata dan fana ini.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s