Budaya Oke Copel Relasinya dengan Ceki, Wada dan Torok

                Manusia adalah makhluk idea. Ia mempunyai cita-cita, keinginan dan harapan. Ada banyak cita-cita, keinginan dan harapan yang dimiliki oleh manusia. Pencapaian keinginan tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas dan kegiatan, seperti berorganisasi, masuk di lembaga pendidikan, berbisnis, berpolitik dan lain-lain. Meski dengan berbagai metoda untuk mencapai kebahagiaan, eudaimania, namun yang pasti bahwa tiap-tiap orang menginginkan kehidupannya bahagia tidak hanya di dunia bahkan mengejar kebahagian abadi.

Pengejaran kebahagian itu terkadang terbentur dengan kenyataan kegagalan bahkan kematian yang berakibat pada turut susahnya orang lain. Misalnya, seorang ayah dibunuh karena sebuah perkara atau kecelakaan maut maka istri dan anaknya turut susah. Contoh lain, pernikahan suci yang berujung pada perceraian menyebabkan rumah tangga retak, anak-anak pun (bila ada anak) turut menderita pula. Bisa juga seorang pengusaha yang terkena bencana karena kendaraan taksinya jatuh, menabrak orang hingga mati.

Sebagai manusia, hal-hal di atas tidak diinginkan. Karena itu, orang mulai berpikir agar halangan, hambatan harus segera diatasi. Dengan berbagai metoda pula, orang mulai menemukan solusi yang tepat untuk bisa keluar dari sebuah persoalan. Meski diakui bahwa ada teori teologis yang mengatakan bahwa penderitaan adalah sebuah penempaan. Namun, orang perlu berusaha untuk tetap keluar dari tantangan, halangan dan hambatan.

Sebagai orang yang berbudaya, orang Manggarai mempunyai solusi tersendiri untuk keluar dari halangan dan mencapai kesejahteraan hidup dan kebahagiaan. Budaya tersebut adalah budaya oke copel (tolak bala). Oke copel ini sangat umum karena menyangkut semua halangan, baik karena mati karena dibunuh, kecelakaan dan sebagainya.  Budaya oke copel selalu hidup dan tetap dipraktekkan oleh orang Manggarai. Misalnya juga, pada saat acara paki jarang bolong (acara mempersembahkan seekor kuda hitam kecoklatan untuk mengakhiri semua bentuk penderitaan dan kematian beruntun warga dalam satu kampung adat)

Biasanya bila ada kecelakaan kendaraan, jatuh terbunuh, mati karena ditikam orang, dimakan binatang liar, disambar petir dan kendaraan yang selalu mengalami nasib naas, dalam kebiasaan orang Manggarai selalu melaksanakan ritus keti le manuk miteng, podo le manuk miteng (diputuskan atau diakhiri dengan acara dipersembahkannya hewan piaraan berupa ayam kecil hitam, anjing buta atau babi hitam).

Budaya keti le manuk miteng, podo le manuk miteng maksudnya agar oke one waes laud, one lesos saled (dibuang ke air semua sial itu dan dibuang ke terbenamnya mentari).  Bisa juga misalnya acaraoke dara ta;a (buang sial karena dibunuh orang atau kecelakaan, tenggelam).

Konteks budaya Manggarai, apabila tidak dilakukan acara podo le manuk miteng, maka sial akan selalu terjadi dan terbawa pada generasi selanjutnya. Tujuannya dari dibuatkannya acara tersebut agar tidak terulang lagi peristiwa tragis pada generasi selanjutnya, atau tidak terulang lagi pada benda atau orang yang sama. Dan, apabila ritus buang sial tersebut dilakukan, dipercaya sial itu akan berakhir pada benda, orang atau generasi selanjutnya.

Salah satu tempat yang sering dilakukannya upacara podo le manuk miteng, kudu oke one waes laudadalah di Wae Longge, dekat kampung Tuwa, Desa Golo Ronggot, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat, yaitu salah satu jembatan yang menghubungkan jalan Negara Labuan Bajo-Ruteng yang letaknya di Lembor. Hal ini disaksikan oleh fn-online.com saat pulang dari Labuan Bajo, Selasa (27/11/2012) di Wae Longge di mana ada sekelompok orang dan dipandu oleh ata bae curup adat (orang yang tahu bicara adat) melaksanakan upacara oke copel.

Di Manggarai tiap-tiap kampung, desa memiliki tempat tertentu untuk dilaksanakannya acara buang sial. Misalnya, di Kelurahan Nantal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, salah satu satu tempat yang lazim digunakan untuk melakukan acara adat tersebut adalah Wae Cewe di Cunca Durang. Di banyak kampung juga terdapat tempat dibuatkannya acara tersebut yang penting ada sungai dan jurang (cunga).

Relasinya dengan Ceki, Wada dan Torok

Hal yang paling penting yang harus diketahui generasi muda Manggarai zaman sekarang adalah memahami budaya dan realitas budayanya. Banyak orang muda Manggarai masa kini sudah lupa bahkan kurang memahami ungkapan dalam budayanya, termasuk arti dan maksud di balik ungkapan yang sering diungkapkan sebagai idiom yang sukar dipahami karena mempunyai latar belakang sejarahnya tersendiri-sendiri yang kemudian mempunyai tautannya satu sama lain.

Pertama, cekiCeki tidak hanya sebuah kata yang diungkapkan begitu saja dan merupakan idiom yang tidak bersejarah. Ceki adalah idiom bersejarah. Idiom historisitas.

Apa itu cekiCeki adalah tabu, totem, larangan. Tabunya adalah tabu memakan sesuatu, mengkomsumsi sesuatu. Misalnya, ada suku yang dilarang makan daging musang, daging babi, daging burung pipit (cik), daging burung rajawali, daging ikan lele, daging sapi dan sebagainya.

                 Secara historis, asal mula ceki berawal dari sebuah peristiwa. Misalnya, masyarakat Wae Rebo. Wae Rebo keturunan Maro dilarang membunuh dan memakan daging musang (kula). Dilarang memakan musang karena Maro pada saat pertama kali menuju ke Wae Rebo pada malam hari adalah dituntun oleh musang. Awalnya Maro tinggal di Todo. Suatu hari, seekor musang datang ke rumahnya Maro berulang-ulang kali (melalui pintu depan). Tidak lazim musang bisa masuk ke dalam rumah pada siang hari. Karena penasaran, Maro kemudian berpikir bahwa kedatangan musang tersebut bukan musang biasa maka Maro pun mengucapkan kata-kata berupa petuah,wejangan, pesan perjanjian  atau wada. Wada tersebut didengar oleh musang tersebut. Dengan rasa percaya, keluarga Maro, istri, 7 anaknya dan saudarinya keluar dari rumah dan mengikuti sang musang menuju tempat sekarang yang disebut Wae Rebo. Setibanya di Wae Rebo musang tersebut hilang dan perjanjiannya bahwa Maro dan keturunannya tidak boleh memakan daging musang.

             Suku Mbaru Asi misalnya, dilarang memakan daging burung rajawali dan di salah satu suku di Cumbi dilarang makan burung pipit. Jika suku tersebut melanggar tabu sukunya, ceki sukunya maka akan sakit dan gila. Dengan demikian, ceki mungkin dari perjanjian, karena telah dibantu dan menolong nenek moyang  suku yang bersangkutan. Jadi, ceki dekat dengan wada/pesan perjanjian.

              Pertanyaannya, bagaimana menghilangkan gila yang disebabkan oleh perbuatan melanggar ceki? Solusinya adalah harus melakukan ritus adat meminta maaf terutama perjanjian nenek moyang dengan sebuah benda atau makhluk yang pernah dibuat perjanjian. Dalam ritus adat itulah melibatkan wada, tudak dan torok tae.

               Kedua, wadaWada adalah pesan. Sebuah pesan perjanjian, sebuah amanah larangan. Wada bisa berkonotasi negatif. Lazimnya untuk mengutuk anak kandungnya sendiri seorang ibu wada di payudaranya. Contoh: “Dengarlah hai anakku, karena susu inilah engkau menjadi besar. Kalau bukan karena susu ini engkau dibesarkan engkau tidak selamat — sang ibu sambil memegang payudaranya”.. Bisa juga wada dengan pelepah yaitu pada saat seseorang yang hendak merantau, dia mengambil pelepah lalu mengungkapkan pesan perjanjian di gerbang pintu kampung di pertigaan. Orang yang sedang sakit. Bisa juga kepada orang yang sudah meninggal yang mati karena diguna-guna, mati karena dibunuh dan pelakunya tidak diketahui maka biasanya keluarganya melalui wada agar pelakunya dicari sendiri oleh jiwa orang yang meninggal bersangkutan. Dengan demikian, wada bisa berkonotasi negatif.

                  Wada yang bersifat negatif selain melalui pelepah tetapi juga bisa melalui daun alang-alang mentah.Wada dekat dengan guru (doa ilmu) dan krenda (guna-guna) Wada dan guru lazimnya diucapkan dengan melalui benda. Hanya wada diperdengarkan suaranya. Guru lazimnya doa ilmu yang hanya diungkapkan dalam hati saja (ada juga secara tidak langsung diperdengarkan).  Sedangkan, krendamencakup wadaguru dan tanpa wada dan guru. Misalnya, seorang manusia jahil mengambil tanah kuburan dan siram di rumah musuhnya. Bentuk lainnya adalah dengan menggunakan ilalang mentah dan pelepah. Syaratnya orang yang menjadi target tidak boleh melewati di atas. Sedangkan, krendakaitannya dengan wadaguru dengan telur ayam kampung di kuburan keluarga yang menyebabkan target mangsanya mati dan kemudian meninggal.

               Wada juga berkonotasi positif misalnya wada dengan seekor binatang liar, seperti ular atau binatang liar lain yang masuk dalam rumah. Orang-orang biasanya berbicara dengan binatang tersebut dengan wadaterkait maksud kedatangannya ke dalam rumah. Kalau pertanda buruk, binatang itu tidak pergi dari tempatnya meski di-wada, kalau datang karena bukan memberitahukan sebuah penderitaan maka dia akan pulang setelah wada. Kalau berkali-kali datang, maka binatang itu membawa pesan dan berita seperti yang terjadi dengan masyarakat kampung adat tradisional Wae Rebo.

               Ketiga, torokTorok adalah ungkapan doa, permintaan, menyampaikan sesuatu kepada roh. Ketika seseorang melanggar totemnya, dan orang bersangkutan sakit maka dibuatlah sebuah acara adat. Jaditorok adalah ungkapan doa. Misalnya, mengambil sebutir telur ayam kampung lalu di-torok-kan, didoakan oleh orang yang dianggap bisa. Torok sangat dekat dengan tudakTudak adalah doa. Tudak biasanya diungkapkan kepada Tuhan melalui hewan korban, seperti babi, ayam, kerbau.  Perbedaan wada, torokdan tudakWada bisa berkonotasi negatif misalnya hendak mengutuk orang. Torok dan tudak lebih pada ungkapan doa. Doa kepada nenek moyang dan Tuhan. Wada dan tudak adalah bagian dari torok tetapi ada kaitannya masing-masing. Misalnya, tudak kaba co’o torokn (tudak kerbau bagaimana torok-nya—doa melalui kerbau bagaimana ungkapannya). Tudak adalah doa, torok adalah ungkapannya. Tudakadalah doa/permintaan yang di-torok-kan kepada Tuhan. Sedangkan, torok adalah ungkapan yang disampaikan dalam doa (tudak).

Itulah budaya Manggarai yang selalu hidup meski ada sekian orang saja yang melaksanakannya, namun alangkah baik kalau generasi muda Manggarai terus melestarikan dan mempraktekkannya karena BUDAYA ADALAH CITRA BANGSA. (Melky Pantur/rd)

Sumber: http://www.fn-online.com/2013/02/budaya-oke-copel-relasinya-dengan-ceki.html

Advertisements

2 thoughts on “Budaya Oke Copel Relasinya dengan Ceki, Wada dan Torok

    1. Panny….huuhhh sepertinya kekasihnya orang manggarai ya…?
      Apa kabar=Co kreba? Aku merindukanmu=aku nuk ite?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s