Manggarai: Tumpuan kaki Tuhan

Manggarai: Tumpuan kaki Tuhan

                    Hari sudah gelap.sebentar lagi malam membentang resah.  Rick masih diam terpaku menatapi onggokan pulau kecil sebelah barat kota Labuan bajo. Pulau kecil itu sudah kelihatan tak seperti pulau lagi semenjak sang surya tenggelam dalam peraduannya memberi kehangatan bagi negri seberang, Pulau itu sudah kelihatan seperti batu besar hitam terapung diatas air.Rick dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya menikmati keindahan salah satu kebanggaan dunia milik tanah airnya. Inilah yang membuatnya tak betah tinggal dirantauan.Selalu ingin pulang kampong.

                 Setiap hari dikala senja Rick lakukan ini, menikmati fajar menyingsing melukis warna merah keemasa-emasan yang terpantul indah menyapa kota munggil Labuan bajo itu. Rick sudah kecanduan menjadi pengemar fajar teggelam diufuk barat dikota kecil ini. Ya.. terus terang, memang menyenangkan menyaksikan kepergian si Merah. Baginya melihat si Merah mengucpakan salam perpisahan  adalah suatu kesan yang tak terlukisankan. Bayangkan Cahaya merah keemas-emasan itu sungguh…aduhai luarbiasa menawan; bagaikan putri ayu pengoda hati yang merana. Apalagi kalau perpisahan yang dia namakan “peristiwa” itu terjadi di pantai kota Labuan bajo. Kota munggil nan elok ini. Hmm…inilah yang memikat para pelancong  ramai ramai datang ke Labuan Bajo.

Dulu, semasa keberadaan Bima dan sebelum kedatangan  Bima dan Gowa, kota ini sangat ramai. Karena dijadikan tempat pertemuan perdagangan local dan international. Arkelog membenarkan keabsahan cerita ini dengan ditemukannya beberapa artefak milik orang-orang china. Sejarah juga membuktikan seberapa patutnya kota ini menjadi tempat pertemuan perdagangan pada masa silam, karena tempat ini adalah pintu masuk bagi flores serta Letaknya yang memang sangat strategis yaitu jantung dunia pasifik. Semua pedagang ramai-ramai lari ke sini melakukan tukar menukar dengan standar national hingga internasional yang ujung ujungnya meyebabkan usaha dagang belanda yang saat itu hanya berpusat di Tanah Jawa terputus. jadi, tidaklah heran kalau Belanda iri dengan keramaian transaksi perdagaan dikota ini. Saking irinya, Belanda memboikot semua bentuk tranksaksi perdagangan dikota ini dan dunia bagian timur Indonesia lainya…

Itu hanya secuil informasi akan keistimewaan kota ini sahabat sahabat pejuang. Itu pulalah yang membuat Rick ingin sekali tinggal disini selamanya. Namun mungkin harapannya itu hanyalah sebuah mimpi yang melawan arus sungai. Sebab sesungguhnya, Rick hanya akan tinggal sebentar saja dikota ini. Dia akan pergi lagi, jauh… jauh melewati ribuan samudra raya-Melewati pegunungan raya setinggi gunung Everest, turun naik menyusuri lembah dan bukit ganas Himalaya. Dia akan menari-nari meneluri gunung-guung, menghitung lembah dan lautan serta samudra raya tanpa menghitung waktu antara siang dan malam. Kakinya pasti akan sangat capai. Tapi demi cita-citanya, pastilah kakinya setia membawanya kemanapun mimpi menginginkan. Meski hingga keujung dunia ini sekalipun.

***

Baru beberapa bulan yang lalu Rick tiba dari tanah rantauan sahabat sahabat pejuang. Dari seberang sana dia prihatin akan budaya mulia warisan nenek moyangnya, betapa kasihan sudah hampir hilang dari bumi manggarai tercinta. Terdorong oleh rasa iba akan lunturnya adat budaya kampong halamannya itulah, Rick pingin sekali kembali ke kampong halamannya; tana congka sae.

Sebentar sahabat sahabat pejuang…mengapa dijuluki dengan tana congka sae? Karena tanah manggarai ini kaya akan seni tarinya. Memang  putra putrinya tidak terlalu pandai dan bahkan ada yang tidak tahu sama sekali bergoyang sahabat sahabatku seperti Rick contohnya; dia sangat buta kalau mengenai bergoyang seperti goyangnya orang orang kulit putih itu. Tapi, tarian yang mereka tau bukan sekedar tarian sahabat-sahabat pejuang, tapi sarat akan makna. Tarian yang memberikan nilai moral yang tinggi, yang menjamin dan demi kehidupan kekal jiwa anda. Kenal dengan tarian caci itu? Orang saling pukul itu?

***

Beberapa tahun silam Rick  meninggalkan tanah nuca lale tercinta ini, meninggalkan adik kakak, saudara/i terkasih. Ada kerinduan begitu mendalam akan natas tempat dia dan teman teman sebayanya bermain dikala sore, sehabis mencari kayu api setengah hari penuh, sepulang dari sekolah. Ngomong-ngomomg sekolahnya sejauh dua kilometer dari rumahnya. Pagi pagi buta rick dan temen-temannya naik turun lembah dan bukit dengan kaki kosong tanpa alas. Kadang kadang darah bercucuran dari kaki munggil pahlawan-pahlawan kecil itu tanpa mereka sadari karena asik berlari naik turun bukit dan lembah sepanjang perjalanan. Untuk menguragi rasa capai akan perjalanan berbatu nan panjang itu, Mereka berlomba-lomba siapa yang sampai lebih dulu pada tempat yang mereka setujui maka dialah pemenanngnya. Begtulah seterusnya dan selalu mereka lakukan. Ada kebahagian, mengingat itu semua:namun ada juga sedihnya.Lucu bila diingat. Tapi yang jelas ada sejuta rasa bangga bila dibandingkan dengan keadaanya sekarang; Rick telah berpetualang jauh ke negri orang. Ya…dia bersyukur dulu dia dibekali dengan kaki berdarah karena naik turun lembah.

Rick teringat juga, kala senja, saat matahari telah terbenam, anak anak biasanya ramai-ramai duduk melingkar di jantung natas_bundaran tempat semua kegiatan-kegiatan ritual kampung berlangsung bersama kakak2 dan tetua tetua kampong-_mendengarkan cerita cerita mereka tentang masa masa silam. Begitu indah teman teman pejuang.

Anak anak berusia seumur Rick selalu memuji kakak-kakak dan tetua tetua kampong yang  dengan bangganya menceritakan pengalaman tentang tarian caci. Tarian perang kebanggaan Tana Nuca lale. Mereka begitu tangguh. Mereka menceritankan bahwa tarian caci itu adalah tarian yang disemangati oleh rasa kekeluargaan, begitu mulia, rasa sportifitas yang tinggi, rasa kelelakian yang besar.Caci adalah pintu membuka tali persahabatan, rasa syukur atas karya agung Tuhan akan dunia dan segala isinya, termasuk manusia yang secra khusus adalh paling istimewa dimata Tuhan. Caci juga adalah sebuah ajang melatih diri menjadi pemaaf, rendah hati–kalo kalah harus diterima dengan ikhlas hati tanpa dendam. Setiap peserta caci kalau ingin berpartisipasi seharusnya terbebas dari urusan pribadi semacam: benci, irihati, atau dendam, dsb.

Setiap  kali sharing hampir bubar, para pemuda yang mereka kagum-kagumi itu selalu memberikan kata penutup berupa nasihat dan sebagainya. Rick masih teringat mereka berkisah bahwa permainan caci itu adalah tempat untuk membentuk jati diri sorang putra manggarai yaitu menjadi seorang yang tangguh, percaya diri, berani, pemaaf, pecinta, hingga seorang menjadi profesional dalam arti bahwa seorang belajar untuk sealu menjaga sportifitas dalam kompetisi, penyabar dll.  Saat ini caci sudah menjadi jati diri dan identitas seorang manggarai.

Itulah sepenggal kenangan masa lalu yang indah teman teman pejuang mengapa Setiap hari Rick selalu datang ditempat ini melamun tanpa bertepi, tergantung dimana imajinasi membawa rohnya jauh ke masa lalu. Ya…masa lalu teman teman, masa lalu yang kini terkubur jauh dalam benak seorang Rick. Tapi yang jelas raganya ada disini, duduk dan kadang kadang berjalan kecil ditepi salah satu pesisir pantai di kota Labuan bajo ini,  menikmati pasir putih dengan sentuhan kulit kakinya. Sesekali digenggamnya pasir putih itu, dilemparknya keatas sehingga pasir pasir itu jatuh keatas mukanya. Dia  sungguh  menikmati “peristiwa”  mengejutkan itu, ya…dia menyebutnya peristiwa. Orang pada umumnya menyebutnya “senja”. Orang ingris Andrew temannya menyebutnya “sunset”.

***

Tidak mudah melupakan memori memori seindah itu teman teman pejuang. Apalagi kalau melihat kenyataan dunia sekarang, orang mulai melupakan kebiasaan kebiasaan mulia nenek moyang. Padahal nilai nilai budaya, adat-istiadat warisan leluhur itu bisa menjadi jalan bagi kita  menemukan Tuhan dengan bertingkah dan bertutur kata sewajarnya dalam kehidupan sehari. Nilai nilai dan pesan pesan mulia leluhur kita itu bisa menuntun kita untuk menjalani hidup ini dijalan yang benar. Namun, apa yang terjadi? Anak anak muda Di manggarai saat ini teman teman, sudah tak peduli lagi dengan adat istiadat, pesan pesan mulia dan warisan warisan suci leluhur itu. Mereka lebih suka mengikuti gaya tren sinetron, dan film film barat. Mereka lebih suka mencari jati diri mereka dalam film film yang tentunya berbeda latar belakang dengan pribadi mereka sendiri. Betapa disayangkan keadaan ini teman teman.

Tentang temannya Andrw ini, dia begitu antusias menyasikan sunset dikota ini setiap kali dia datang. Menyaksikan sunset adalah sebuah agenda yang tak bisa diganti atau diabaikannya. Kebiasaan Andrew Temannya  ini kawan sedikit gila. Bayangkan, setiap kali dia datang, meskipun pesawat belum landing, dia sudah menelpon Rick untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebagai teman selama menyaksikan peristiwa matahari terbenam dikota Labuan bajo itu. Padahal kalau orang lain, itu biasanya pasti minta dijemput.

’’ hey Rik, kau sudah siapkan gitarnya, kopi pahitnya, pokoknya seperti biasalah! Kau siapkan ya! Terkadang  dia selalu memesan secara khusus “ hey Rick jangan lupa serabenya ya!”. Kata ini selalu dia pake. Makanya, kadang sebelum dia melangkah ke permintaan berikutnya Rick sudah katakan lebih dahulu.”yang lainnya sudah siap bung”

Andrew memang pecinta tanah congka sae. Dia Bukan hanya  terkesan dengan keindahan alam tanah nuca lale ini, tapi juga kekayaaan adat-istiadat, nialai nilai yag terkandung, cara hidup orang manggarai yang bersahaja, keramah-tamahannya, kehormatan yang mereka berikan kepada setiap pendatang sangat special.

Semenjak kecil Rick memang telah mencintai tanah manggarai. Rick merasa bangga menjadi bagian dari ras ini. Pernah Rick berkhayal membuat manggarai dikenal diseluruh dunia, keindahan, kekayaan nilai-nilai budayanya, seperti budaya dan filsafatserta theology orang barat diperkenalkan kepada orang timur—tidaklah salah bila Rick juga berpikir sebaliknya, memperkenalkan budaya, adat istiadat, filosofi dan teologi daerahnya kepada orang barat pencari kebenaran. Namun setelah Rick bertemu Andrew, Rick merasa itu semua tak ada tandingnya dengan semangatnya Andrew. Jadi, Rick juga bersyukur berkenal dengan temannya ini. Karena dia menghidupkan semangat yang tak bertumbuh dalam hatinya. Semangat yang tak bertumbuh karena tak disirami pupuk.

Andrew selalu berkata” jangan mengharapkan orang lain untuk menjaga semua nilai nilai peninggalan nenek moyang kita”. Rick terpaku dengan kata terucap dari mulut Andrew, orang asing ini begitu perhatian akan nilai nilai budaya manggarai. Rick hampir tak percaya namun  Sorot mata Andrew  penuh dengan harapan, mengisyratkan kata katanya sungguh datang dari relung sanubari terdalam. Rick diyakinkan. Oh ya…dia sudah merasa bertanggung jawab akan  tanah ini. Rick bertanya pada pada dirinya sendiri “Bila Andrew begitu perhatian dengan segala yang ada dimanggarai dan secara nyata datang berdiam disini, mengapa aku tak bisa? mengapa kau belum mewujudkan mim[pi mimpiku? Sudahkanh aku melakukan sesuatu sebagai sebuah perwujudan bahwa aku sunggunh memperhatikan kelanggsungan nilai-nilai peninggalan “dise empo?’’. Apa yang telah aku lakukan untuk menolak para investor tambang  local maupun asing? Mereka secara nyata merusak keindahan dan kelangsungan ekosistem hewan dan binatang langka milik tanah Nuca lale ini. Huh…kesalnya, karena tak bisa menjawab semua pertanyaan bertubu-tubi dari hatinya itu.

“Rick kau sudah dengar berita?” tanya Andrew.

“Berita apa” balas Rick tak mengerti.

“Besok lusa akan ada pementasan caci di kampong Racang. Ada perayaan pernikahan anak bapak guru Yakobus. Kau mau ikut kan?”

“Ya aku dengar kabar itu. Tapi saya tidak yakin karena  anak anak disana tadi tidak kasih tahu aku cacinya dalam rangka apa! but anyway pastilah aku akan ikut Andrew.”

“O ya Rcik, tadi aku bertemu dengan bapak Tua Tembong bahwa akan ada acara pada malam harinya seperti: tandak, tarian ndudu ndake, sanda dan lain sebagainya. Kamu mau ikut kan?’’

“Ehm…Rick diam sebentar mempertimbangkan ajakan itu. Ah…aku tidak akan ikut acara pada malam harinya. Aku tunggu cacinya saja sebagai “ata one”.

Andrew diam menatapnya pekat seakan-akan tak senang dengan keputusan Rick. Sepertinya dia mengharapkan Rick pergi, ikut serta dalam acara itu. Andrew kelihatan merasa kecewa dengan keputusan Rick. Dia diam,diam dan diam.

“Ok, ada yang salah demgan keputusanku?” Tanya Rick

“Yah…salah sekali Rik. Suatu saat kamu akan sadar bahwa itu salah.”

“Ok,baiklah Andrew…!  Aku akan ikut.” Andrew kembali ceria.

“Rick, ready to go. Aku sudah siapkan semua perlengkapanya. Kain songke, selendang, sapu, saputangan, dan lain sebagainya aku sudah siapakan untuk kau dan untuk aku juga”

“Hei Andrew, aku tahu kau sangat antusias untuk mengambil bagian dalam setiap upacara-upacara adat.  Jadi, aku minta maaf mengecewakan kau.”

Tak perlulah kau minta maaf Rick. Lagian kau mau ikut juga. Apa kau sudah mengerti sesuatu?

“Ya sudah, Ya…bahwa tidak baik mengecewakan kau.” jelas Rick.

“Ah…Bukan itu yang ingin aku ajarkan kepada kau. Tapi akan datang saatnya kau akan sadar. Dan kau akan mengerti sesuatu yang sesungguhnya kau sudah mengerti tapi belum sempurna. Karena kau belum mewujudkannya” Tegas Andrew.

” Rik tanah nuca lale ini napas Tuhan yang hilang. Indah nan kaya. Putra putri manggarai dimana saja mereka berada adalah lilin lilin kecil inspirasi bagi orang lain, yah…bagi orang-orang yang mereka jumpai. Mereka bagaikan bunga Runu (wela Runu),  bahwa meskipun kecil dan tinggal dalam keramain, mereka memberikan etika hidup yang lurus, dan karenanya tercipta keindahan, kencantikan sebagai pantulan akan keindahan Tuhan.dan bahwa mereka tahu mengapa mereka hidup degan cara hidup beretika karena mereka tahu akhir dari semuanya: kemana semuanya akan pergi.” tambah Andrew panjang lebar.

 

 

bersambung….

Advertisements

4 thoughts on “Manggarai: Tumpuan kaki Tuhan

Add yours

  1. bagus2 ceritanya,,,sy mencri kisah sambulawa dan nggoang petola yang sempat memiliki audio drama musikalnya,,,,apakah ite tahu tentang itu???sy sangat membutuhkannya…mohon tanggapan dite?

  2. Om Veriyanto, terimkasih. Unutk Naskah atau text Sambulawa dan Nggoang Patola sayapun lagi mencarinya….pernah memang nenek menceritakannya, mungkin saya akan menuangkanya dalam bentuk cerita….Om veri, klo ite sangat membutuhkannya segera, coba minta di RPD Ruteng…
    Tabe

    1. selamat siang juga Tanta Heny, terimkash banyak. Mohon maaf, tulisannya disajikan kurang begitu sempurna. EYDnya kaco balau dan sungguh sama sekali tdk melalui proses editing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: