Apa itu Wagal?

Apa itu Wagal?

hahahha
Wagal Data Racang-dlm perjalanan ke Ling Satar Mese, pada wagal diha Flori

Ini cara Orang Manggarai memuliakan persatuan sepasang pria dan wanita dalam ranah perkawinan.

Tahukah anda apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya sebelum memulai tulisan ini. Saya yakin Anda tidak bisa mereka-reka layaknya saya yang tidak bisa menebak-neba jawaban yang mungkin dapat anda berikan kepada saya. ? oleh karena itu, seyogianya kita memberlakukan hukum win-win saja.

Baiklah, hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah memikirkan kira-kira di mana saya menemukan kata yang sepadan dengan kata wagal dari beribu-ribu  bahasa di dunia. Yang saya lakukan di antaranya adalah membuka kamus besar bahasa Indonesia dan Webster Dictionary dan bahkah kamus Tagalog dan  Bisaya. Yang terakhir saya juga masukan dalam upaya pencarian, lantaran ketika mengenyam penddidikan lanjutan di sebuah sekolah Tinggi di filipina, seorang dosen sempat mendiskusikan tentang kebenaran praktik dan tradisi serupa. Meskipun tidak sreatus persen bahkan tujuh puluh persen sama, namun paling tidak ada kemiripan tradisi dan adat istiadat serta praktek praktek yang mengenerasi dari keduanya.

Alhasil, saya pun tidak menemukan kata yang sepadan dengan definisi Wagal sesungguhnya. Ekstrimnya, saya malah berpikir terlampau jauh ingin memasukan kata wagal ini ke dalam kosa kata dunia—sekedar menambah perbendaharaan kata dan menjadikanya satu dari deretan kata-kata bermakna dalam yang dimiliki oleh salah satu etnik dan budaya di dunia. Bukahkah hal itu cukup baik?

Dalam artikel saya kali ini, saya akan fokus pada pembahasan tentang apa sich yang dimaksud dengan wagal? Sedikit mengenai konsep keberadaan wagal dalam tradisi orang Manggarai? Dan yang terakhir but not the least, bagaiaman, kapan dan di mana wagal dilanksanakan? Kendati saya awalnya berpikir manakala kita berbicara tentang wagal yang adalah salah satu tahap dalam rangkaian proses dan tahapan perkawinan di Tanah Congka Sae, saya pun kemudian menepisnya dan memutuskan membahas tahapan-tahapan itu di kesempatan lain dalam sesi yang lain, namun bukan pada tempat yang lain; melainkan di blog cerita putracongkasae ini.

Okay… kita langsung saja pada point yang pertama: apa itu wagal? Wagal bagi orang Manggarai tidak lebih dan tidak kurang adalah manifestasi kekaguman dan penghayatan akan keagungan dan kemulian dari perkawinan. Orang Manggarai sangat memuliakan sebuah persatuan antara seorang pria dan seorang wanita dalam ranah perkawinan—yang  mana persatuan ini pada prisnsipnya unik, mulia dan agung seperti existensi Allah Tritunggal. Orang Manggarai pun meyakini perkawinan itu sebagai bentuk penjelmaan dan wujud manusiawi dari Ke-Tritungalan Allah. Seperti konsep dan realitas Allah adalah mulia, agung dan abadi demikian pun konsep dan praktek perkawinan bagi Orang Manggarai seperti terungkap dalam ungkapan (wina rona paka cawi neho wuas-dole neho ajos yang berarti perkawinan itu menyatukan secara abadi) dan tak terceraikan (acer nao-wase wunut yang berarti tak terpisahkan). Wagal merupakan puncak pengukuhan adat perkawinan dalam budaya Manggarai. Namun, bukan yang terakhir. Masih ada pengukuhan-pengukuhan lain setelah acara puncak ini yang juga tak kalah sakral dan pentingnya. Terlihat jelas bahwa,  persatuan seorang pria dan seorang wanita yang keduanya terikat dan diikat oleh cinta sungguh-sungguh menggambarkan dengan sempurna realitas Ke-Trituggalan Allah. Kemudian nantinya persatuan ini akan melahirkan kehidupan baru—inilah yang disebut dengan pro-creation atau mitra Allah dalam proses pemyempurnaan karyaNya. (renungan cekoen)

Dewasa ini, seringkali wagal ditangguhkan dengan alasan belum menemui titik terang kesepakatan antara kedua belah pihak yakni pihak anak rona(pihak keluarga perempuan) dan anak wina(pihak keluarga pria). Alasan mengenai belum ditemukanya titik terang kesepakatan antara kedua pihak sangat variatif—diantaranya belum menemukan waktu yang tepat atau juga pihak pria belum menyetujui nominal belis yang dimintai oleh pihak prempuan atau adakalanya, pihak pria belum dapat mengumpulkan sejumlah nominal yang disahkan bersama pada tahap (kempu) sebelumnya. Bila ini terjadi, biasanya perkawinan secara Gerejawi tetap dilaksanakan—yang juga berdasarakan keputusan bersama, hasil musyawarah dan mufakat kedua belah pihak.

Usai berbicara tentang apa itu wagal sekarang kita melangkah ke point berikutnya—di mana wagal dilangsungkan? Wagal dilangsungkan di tempat keluarga besar pihak prempuan.

Wagal biasanya dimeriahkan dengan tarian caci bila kedua belah pihak menyetujui dan juga berdasarkan jumlah nominal belis yang dibawa pihak keluarga pria. Tren sekarang ini, jarang mpengaruh Gereja Katolik—yang notabene terselubung di dalamnya idealisme Barat, caci digantikan tempatnya dengan resepsi pernikahan—bahasa gaulnya orang manggarai “pesta kawin atau rame tama”. Namun tidak menutup kemungkinan, kedua pengungkapan kebahagian dan kemulian perkwainan dalam wagal bisa dimeriahkan dengan caci dan pesta nikah seperti yang pernah saya ikuti beberapa bulan yang lalu pada wagal sepupu saya.

Pada pertemuan berikutnya, kita akan membahasa tentang tahap-tahap perkawinan dalam praktek adat Manggarai. So Stay tune on Cerita Putracongkasae.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s