Mahasiswa Asal Flores Menyihir Publik Jantung Pertiwi dengan Puisi

Rikard Djegadut bersama Pegiat Dapur Theater Sastra-IKWJ berpose seusai acara Malam Puisi di Taman Suropati, Jakarta.

Minggu, (13/8/2017), Dapur Theater Sastra IKWJ mengadakan acara musikalisasi puisi di Taman Suropati, Jakarta Pusat. Acara musikalisasi puisi sebagai rangkaian dari perayaan puisi Indonesia 2017 tersebut dikemas sederhana dengan mengangkat tema “merawat keberagaman, merekat kemesrahan.”

Kegiatan yang dikordinir lansung oleh Rikar Djegadut, selaku pendiri sastra IKWJ ini berlangsung dari pukul 18.00 – 21.00 WIB. Terbilang sukses dan memantik perhatian penuh sebagian publik jakarta. Acara ini menurut rencana awal seharusnya dihadiri oleh seorang penyair kenamaan, penggagas Hari Puisi Indonesia sekaligus ketua panitia HPI 2017 Asrizal Nur dan pegiat sekaligus pengamat sastra, Bpk. Gerad N. Bibang – namun karena keterbatasan waktu keduanya tidak bisa hadir.

Dalam acara super gengsi ini, tampil sebagai deklamator pembuka adalah Rian Agung, Mahasiswa Hukum Esa Unggu. Rian membawakan puisi berjudul: “Lima Tnya untuk Tuhan”. Ia mengkritisi pola pikir para theistik yang melegalkan pembunuhan dengan label dan legalitas agama. Ia lalu menggugat Tuhan: mengapa iman kepada yang Ilahi harus melibatkan kematian yang lain dan mengorbankan hidup yang mulia dari sesama insan yang lain.

Deklamator berikut adalah saudari Yustina Ndia, membawakan puisi “Wahai Pemuda Mana Telurmu”  karya penyair besar Saturdji Calzoum Bachri. Puisi tersebut khusus menantang putra-putri pertiwi dan segenap komponen Bangsa agar merapatkan barisan menjaga kemerdekaan. Bahwasanya kemerdekaan itu tidak hanya dimengerti sebagai pelepasan diri dari tangan penjajah melainkan bagaimana memaknai serta mempertahankanya.

Penampilan gemilang Yustin, begitu Ia akrab disapa sungguh menghipnotis seluruh hadirin. Semangat yang menggebu-nggebu dari seorang Yustin,  yang kesehariannya berprofesi sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Permai Plus Jakarta Utara itu membuat naskah puisi yang dilantunkanya itu tampak hidup dan berkarakter.

Sementara puisi “Di Negeri Amplop” , karya penyair kenamaan Gus Mus – dibawakan oleh Yanto Selai, Mahasiswa Atmajaya-dengan halus menyindir praktik-peaktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sehingga acapkali menangis melihat anak-anaknya menjadi hamba uang. Padahal dalam puisi “Negeriku”,  lewat penampilan Yuliana Anul, Mahasiswa Institut Bisnis dan informarika Kosgoro Jakarta, ibu pertiwi mengajukan pertanyaan retoris: mana ada negeri sesubur negeriku? Bahwasanya realitas yang dihadapi putra putri sungguh sangat ironis. Kekayaan alam melimpah, namun tetap saja masyarakat harus mengemis di Negerinya yang subur.

Puisi “Bhineka Tunggal Ika”  dan “Negeriku ha-hi,”  masing-masing dibawakan oleh Jeremias dan Jefri Darman. Penampilan seorang Jeremias, Mahasiswa Universitas Pamulang ini menghadapkan penonton pada realitas akan indahnya keberagaman. Bahwasanya konsep satu dan utuh lahir dari adanya dua entitas yang berbeda namun saling membutuhkan untuk mengaktualisasi diri sehingga mencapai kepenuhan. Sementara penampilan seorang Jefri Darman, Mahasiswa pada Institut Bisnis Nusantara, menantang penonton dengan teks puisi yang berisikan bait-bait jenaka,  tentunya berimplikasi menyindir dengan cara yang tak biasa.

Sementara penonton asyik menikmati suguhan tema kenegaraan, Jonsy Lopong, tampil membawa api penyulut semangat para penonton untuk mulai jatuh cinta pada sastra. Puisi karya Saut Sitompul ia bawakan dengan menyentrik dan menggelitik hati. Penampilan ekspresif dari seorang alumnus Trisakti tersebut pada intinya berpesan bahwa siapa saja bisa menulis puisi, kapan dan di mana saja.

Beberapa hadirin juga diberi kesempatan untuk membacakan puisi dan ditutup dengan puisi berjudul “Aku Masih Sangat Hafal Nyayian Itu” karya KH. A. Mustofa Bisri yang dibawakan oleh Rikard Djegadut sebagai puisi pamungkas. Puisi tersebut khusus menyorot kekontrasan antara realitas kepahitan yang dialami bangsa ini dengan pandangan visioner pengarang lagu Indonesia Tanah Air Beta – yang mana kemudian realitas-realitas ironis tersebut disuguhkan di meja permenungan bagi segenap komponen bangsa.

Acara diakhiri dengan pengambilan video ucapan Hari Puisi Indonesia 2017 dari segenap pengurus dan anggota Dapur Theater Sastra IKWJ. (RDJ/Rian Agung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: