Perayaan Hari Puisi Indonesia: Revitalisasi bagi Kematian Sastra

“Di tengah keterlemparan sastra sebagai bagian penting dari kehidupan kita apa yang mesti kita lakukan?”

Oleh:

Rian Agung

Saat ini keberadaan dunia sastra telah mencapai titik nadir. Begitu banyak generasi sekarang yang tidak lagi mengenal jenis-jenis karya sastra – dan karena itu sudah barang tentu perhatian terhadap dunia sastra yang semakin memprihatinkan bisa dimaklumi. Kalaupun ada segelintir orang yang mempunyai itikad baik untuk menekuni sastra mereka selalu dihadapakan dengan persepsi dan pola pikir yang memandang dengan sebelah mata setiap aktivitas dan jenis-jenis karya sastra.

Sastra itu tidak menjanjikan masa depan yang cerah dan karena itu kita tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk hal-hal seperti itu. Kurang lebih seperti itulah penilaian masyarakat sekarang terhadap sastra. Pola pikir pragmatis tampak masih mendominasi cara pandang manusia untuk melihat segala sesuatu ketimbang ketetapan hati nurani. Sebab berbicara tentang sastra tidak akan terlepas dari lantunan hati untuk mengungkapkan kedalaman dari setiap persoalan hidup.

Padahal jika kita ingin konsisen, sastra memiliki andil besar dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Pada masa kolonial misalnya sifat sastra memiliki warna tersendiri seperti : Berisi cerita dan sajak-sajak di tengah-tengah satu perang yang dasyat, mengandung usaha menimbulkan semangat serta menyebarkan patriotisme atau menganjurkan semangat bekerja.

Di tengah keterlemparan sastra sebagai bagian penting dari kehidupan kita apa yang mesti kita lakukan?

Menjadi pribadi, kelompok atau organisasi yang apatis tentu bukanlah sikap yang tepat. Sebaliknya kita dituntut membagun sikap optimis, melakukan gerakan radikal sehingga sastra bisa kembali pada tempatnya. Dalam usaha ke arah sana, perayaan Hari Puisi Indonesia yang jatuh pada bulan Oktober nanti mesti diapresiasi dan dilihat sebagai revitalisasi bagi kematian dunia sastra kita.

Sebelumnya perayaan Hari Puisi Indonesia pertama kali diselenggarakan sejak tahun 2014 oleh Yayasan Hari Puisi bekerja sama dengan Indopos. Hari Puisi ini sendiri diprakarsai oleh Rida K. Liamsi yang berlansung di Taman Ismail Marzuki.

Pada tahun ini acara hari puisi ini mulai mendapat perhatian penuh dari sejumlah kelompok atau peguyuban sastra tanah air. Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya acara musikalisasi puisi diberbagai daerah menyambut hari puncak pada Oktober mendatang.

Dapur Theater Sastra IKWJ adalah salah satu dari peguyuban sastra yang telah mengambil bagian penting dalam memeriahkan hari puisi Indonesia tahun ini. Dapur Theater yang terbentuknya diinisiasi oleh saudara Rikard Djegadut ini telah merayakan musikalisasi puisi pada Minggu, (13/8/2017), di Taman Suropati Jakarta Pusat. Acara ini dilakukan setelah sebelumnya Pengurus Dapur Theater Sastra IKWJ mendapat kepercayaan dari panitia Hari Puisi Indonesia mewakili Jakarta Pusat dalam mengambil bagian memeriahakan hari puncak dari Hari Puisi Indonesia ini.

Kita tentu berharap acara seperti ini harus rutin dilakukan sehingga bisa memantik antusiasme sebanyak mungkin orang tidak saja pada puisi melainkan pada karya-kary sastra lainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s