Mahasiswa Flores Menyihir Warga Jantung Pertiwi Dengan Puisi Bag. II

P_20170806_192329_1_NT_p
Acara perayaan Hari Puisi Indonesia 2017 yang menurut rencana awal seharusnya dihadiri oleh seorang penyair kenamaan, Penggagas Hari Puisi Indonesia sekaligus Ketua Panitia HPI 2017 Asrizal Nur

dan Pegiat sekaligus pengamat Sastra—yang menahbiskan dirinya sebagai Petani Humaniora Bpk. Gerald N. Bibang—namun karena keterbatasan waktu keduanya tidak bisa hadir tersebut berjalan cukup lancar.

Tampil sebagai deklamator pembuka adalah Rian Agung, Mahasiswa Hukum Esa Unggul. Penampilan gemilang dari seorang Rian Agung menantang segenap peserta dan para hadirin, bahkan pengunjung taman yang awalnya hanya lalu-lalung dan melintas, seketika langkahnya terdiam dan memasangkan telinga serta mata ke arah suara yang lantang menggema menjelma suasana taman yang lazim menjadi tak lazim.
P_20170806_173755_1_p

Rian membawakan puisi berjudul: Lima Tanya Untuk Tuhan. Ia mengkritisi pola pikir para theistik yang melegalkan pembunuhan dengan label dan legalitas agama. Ia lalu menggugat Tuhan: mengapa Iman kepada yang Ilahi harus melibatkan kematian yang lain dan mengobarkan hidup “mulia” dari sesama insan yang lain.

Padahal semua insan punya hak yang sama dan dikodrati dengan pilihan masing-masing dalam menapaki setiap jengkal ziarah perjalanan hidup yang hanya sesaat ini. Suaranya menurun pertanda bait puisinya berakhir dan tepuk tangan hadirin menggelegar menghantarnya kembali ke tempat duduk.

Deklamator berikutnya adalah Saudari Yustina Ndia, membawakan puisi Wahai Pemuda Mana Telurmu karya penyair besar Sutardji Calzoum Bachri.

Puisi tersebut khusus menantang putra-putri pertiwi dan segenap komponen bangsa agar merapatkan barisan menjaga kemerdekaan, mengawal nilai-nlai luhur bangsa yakni Pancasila sebagai pagar-pagar pelindung keutuhan NKRI.

Bahwasanya kemerdekaan itu tidak hanya dimengerti sebagai pelepasan diri dari tangan penjajah melainkan bagaimana memaknai dan menghayatinya serta mempertahankannya.

Penampilan gemilang Yustin begitu Ia akrab disapa, sungguh menghipnotis segenap hadirin. Dalam setiap ekspresinya seakan mengubah situasi yang sedari awal tampak khusuk dan hikmat.

Semangat yang menggebu-nggebu dari seorang Yustine, yang kesehariannya berprofesi sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Permai Plus Jakarta Utara itu membuat naskah puisi yang dilantunkannya tampak hidup dan berkarakter.

Penampilannya membuat sebagian penonton sontak berdiri dan spontan bertepuk tangan lebih kencang dari sebelumnya. Dalam dirinya puisi benar-benar menjadi sesuatu yang hidup.

Sementara puisi Di Negri Amplop, karya penyair kenamaan Gus Mus-dibawakan oleh Yanto Selai, Mahasiswa Atma Jaya—dengan halus menyindir praktek-praktek kolusi, korupsi dan nepotisme sehingga acapkali Ibu Pertiwi menangis melihat anak-anaknya menjadi hamba uang.

Text puisi yang bait-baitnya penuh dengan sindiran halus dipertegas dengan ekspresi sang deklamator yang berkarakter dan penuh penuh penjiwaan. Balutan nada-nada yang menyentuh sanubari membuat segenap penonton ikut tersihir.

Lanjutkan mambaca

Advertisements

One thought on “Mahasiswa Flores Menyihir Warga Jantung Pertiwi Dengan Puisi Bag. II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s