Mahasiswa Flores Menyihir Warga Jantung Pertiwi Dengan Puisi Bag. III

IMG-20170807-WA0011
Padahal dalam puisi Negeriku, lewat penampilan Yulina Anul, Mahasiswi Institut Bisnis dan Informatika Kosgoro Jakarta, Ibu pertiwi mengajukan pertanyaan retoris: mana ada negeri sesubur negeriku?

Bahwasanya realitas yang dihadapi oleh setiap putra-putri pertiwi sungguh sangat ironis.

Kekayaan alam yang melimpah namun tetap saja, masyarakatnya harus mengemis dan kelaparan di negerinya yang subur dan kaya raya.

Alunan nada pada setiap kata, ekspresi yang variatif mengikuti alur dan pesan teks, sang deklamator mampu menghipnotis penonton pada sebuah permenungan panjang dan mendalam tentang apa dan bagaimana saya mengubah nasib di negeri sendiri.
P_20170806_173635_1_p
Puisi seperti Bhineka Tunggal Ika dan Negeriku ha…hi…masing-masing dibawakan oleh Jeremiaz dan Jefry Darman.

Penampilan seorang Jeremiaz, Mahasiswa Universitas Pamulang ini menghadapkan penonton pada realitas akan indahnya keberagaman.

Bahwasanya, konsep satu dan utuh lahir dari adanya dua hal entitas yang berbeda namun saling membutuhkan untuk mengaktualisasi diri hingga mencapai kepenuhan.

Sementara penampilan seorang Jefry Darman, Mahasiswa pada Institut Bisnis Nusantara, menantang penonton dengan teks puisi yang berisikan bait-bait jenaka tentunya berimplikasi menyindir dengan cara yang tak biasa.

Sang deklamator membawakan puisi tersebut dengan ekspresi yang santai namun hampir bisa dikatakan, setiap celetukan “ha…hi..”.yang terlantun membuat nyeri di ulu hati.

Sementara penonton asyik menikmati suguhan tema kenegaraan, Jonsy Lopong, tampil membawa api menyulut semangat para penonton untuk mulai jatuh cinta pada sastra.

Puisi karya Saut Sitompul Ia bawakan dengan menyentrik dan menggelitik hati. Bhawsananya menulis puisi itu bukan hal sulit.

Cukup ada kertas dan pena di tangan. Tulis saja apa yang ada di sekeliling. Apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasa dan dipikirkan.

Penampilan ekspresif dari seorang alumnus Universita Trisakti tersebut pada intinya berpesan bahwa siapa saja bisa menulis puisi, kapan dan di mana saja. Yang terpenting memiliki kepekaan dan tingkat sensitivitas yang tinggi dengan alam sekitar dan juga diri sendiri.

Beberapa hadirin juga diberikan kesempatan untuk membacakan puisi dan ditutup dengan puisi berjudul “Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu” karya KH. Mustofa Bisri yang dibawakan oleh Rikard Djegadut sebagai puisi pamungkas .

Puisi tersebut khusus menyorot ke-kontras-an antara realitas kepahitan yang dialami bangsa ini dengan pandangan visioner pengarang lagu Indonesia Tanah Air Beta—yang mana kemudian realitas-realitas ironis tersebut disuguhkan di meja permenungan bagi segenap komponen bangsa.

Pembacaan yang penuh ekspresif dan berkarakter membuat bulu kuduk para penonton sontak berdiri—di mana pada lirik-lirik ini sang deklamator menyanyikannya:
Indonesia tanah air
kita
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu
dihina-hina bangsa
Di sana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan
dunia
Tempat bertarung merebut kuasa
Sampai entah kapan
Akhirnya.
Acara diakhiri dengan pengambilan video ucapan selamat Hari Puisi Indonesia 2017 dari segenap pengurus dan anggota Dapur Theater Sastra Indonesia-IKWJ. (RDJ)

Advertisements

One thought on “Mahasiswa Flores Menyihir Warga Jantung Pertiwi Dengan Puisi Bag. III

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: