SASTRA

SAYAP-SAYAP GARUDA DI ATAS ISTANA

Sayap-sayap Garuda di tahun ke tujuhpuluhdua
terbang menjelajah angkasa
tumbuh terus paruh dan kukunya yang sejati
setelah kelahiran kedua pada usia sekitar empatpuluh
paruh dan kuku-kukunya yang uzur, hancur
untuk menjadi jiwa nusantara yang warna-warni nan ayu

di langit-langit biru istana
garuda tertawa sangat ikhlas
anak-anaknya berwarna-warni
dalam pakaian mereka yang asli nusantara memang adalah satu dalam beraneka
penangkal manusia yang sewenang-wenang

dari atas istana
garuda terbang ke gunung-gunung batu
untuk mematuki dan mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal
untuk menjiwai negeri ini yang sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan kukunya sendiri
yang selama ini dibungkus dalam egoisme kelompok yang menganggap dirinya sendiri lebih penting

jelajahlah angkasa wahai garuda
dengan tujuhbelas helai sayap dan delapan helai ekor
angka hari kemerdekaan sembilan-belas-empat-lima
kalau toh harus dengan sayap sehelai
teruslah terbang tinggi

sayap-sayapmu  berkepak-kepak gagah
di tengah-tengah kegembiraan hari kemerdekaan
anak-anakmu datang dengan pakaian daerahnya sendiri
mereka sedang menunjukkan jati diri

aku bangga padamu wahai garuda
tertangguh di muka bumi ini
sanggup bergembira dalam derita
mampu melangkah pasti di jalan ketidakpastian
ringan tertawa di kurungan rasa bingung dan sengsara

aku tergila-gila pada negeri titipanmu, wahai garuda
ia juara atas hidupnya sendiri
warga negara miskin antre naik haji
dan menunggu berpuluh tahun tahun lebih
tanpa pernah menawar berapa pun biayanya
bahkan membayar di muka tanpa peduli ke mana bunganya

dengan garuda di dada
suara mereka mendendangkan lagu indonesia raya
mereka tidak akan pernah mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka punya masalah
tetapi kepada setiap masalah mereka menyatakan bahwa mereka punya Tuhan

atas kehidupan yang tidak rasional
dan penuh kemustahilan
mereka selalu mengucapkan syukur kepada Allah
yang telah memberikan segala sesuatu
yang adalah AWAL dan AKHIR
IA yang memulai
IA pula yang menyempurnakannya

aku cinta padamu, wahai garuda
yang telah menorehkan nekat pada setiap dada anak-anak nusantara
yang menjadikan mereka jagoan dalam mengalahkan segala jenis kesusahan hidup
juara penderitaan dan sanggup membangun kegembiraan dalam kesengsaraan
petarung kesulitan dan pendobrak kemustahilan
tertawa dalam kehancuran
dan pandai dalam kebodohan
tidak mengenal lelah untuk terus-menerus ditipu, dibohongi, diperdaya, dan ditindas
tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin
tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang mereka upah
tidak menagih kesejahteraan kepada pengelola tanah airnya
bahkan menyedekahkan kekayaan kepada kepala negara dan kepala pemerintahan beserta seluruh jajarannya

antara riang dan gembira
kehancuran dan kejayaan
mulia dan hina
hebat dan konyol
pandai dan bodoh
surga dan neraka
semua bersatu dalam jiwa
bukan polarisasi
tidak dikotomis
tak berhulu-hilir
hulunya adalah hilirnya
hilirnya adalah hulunya

tak ada pula garis lurus interval
dimensi2 nilai berada dalam bulatan yang bersambung
yang kalau dipandang dari jarak tertentu: ia adalah sebuah titik
sekali lagi, hanya sebuah titikl!

terbanglah garuda, terbanglah
teteskankah kekuatan jiwa agar anak-anakmu mengingat apa yang harus diingat
atau melupakan sesuatu yang harus dilupakan
agar mereka tidak tertekan harus tahu dan mengerti sesuatu
mau ingat apa, mau lupa apa, mau mengerti apa
terserah kepada kepentingan sesaat mereka

turunkanlah api akurasi energi psikologis yang mengarah ke kebahagiaan
untuk meracik kebutuhan antara ingat dan lupa
antara mengerti dengan tidak mengerti
menyatu dalam kebesaran jiwa
agar tidak menjadikan semuanya relatif
yang kalau butuh, yah, ingat
kalau yang menguntungkan adalah lupa
yah,lupakan saja

suburkanlah kerinduan mereka terhadap surga
karena selama ini pun terhadap neraka
ketakutan mereka sudah mulai berkurang

(GNB: petani humaniora:tmn aries:jkt:kamis: 17.8.2017: hari kemerdekaan ke 72 Republilk Indonesia, saat Istana negara warna warni krn semua yang hadir, untuk pertama kali dalam sejarah, mengenakan busana daerah masing-masing)

Advertisements